Laman

Membangun Shiratal Mustaqim


Ihdinash shiratal mustaqim. Tunjukilah kami jalan yang lurus.

Seringkali diceritakan para ustadz dan ulama bahwa nanti di hari kiamat akan ada jembatan yang terbuat dari rambut dibelah tujuh. Bayangkan betapa tipisnya jembatan itu. Jika jembatan itu kuat, maka jembatan itu kemungkinan sangat tajam karena tipisnya. Mungkin akan membelah kaki dan tubuh orang yang menginjakkan kaki di atasnya. Pertanyaannya, berapa panjang dan kuat jembatan tersebut?

Jika kita buka Al Quran dan kita baca sampai habis dari depan ke belakang, maka kita tidak akan menemukan keterangan tentang ini. Jika kita baca beberapa kali, dari depan, dari belakang, dan dari asbabun nuzul atau urutan turunnya ayat maka yang akan kita temukan adalah berbagai peringatan dan informasi. Apa saja informasi tersebut?

  1. Bahwa selain rukun iman dan rukun islam ternyata ada banyak kewajiban lain yang harus kita laksanakan. Jika kewajiban lain yang harus kita laksanakan itu saja sudah sangat banyak, bagaimana lagi dengan berbagai larangan yang terdapat di dalamnya. Yang nyata-nyata mungkin kita semua saat ini sedang melanggarnya.
  2. Dari semua keterangan dan informasi yang kita dapatkan dalam Al Quran tersebut, kemudian bagaimana kita menyikapinya? Apakah kita akan abaikan begitu saja, atau kita diskusikan dahulu dengan kawan-kawan kita sesama pembaca Al Quran tersebut.
  3. Tahap berikutnya artinya kita membuat daftar, siapa saja sebenarnya kawan-kawan kita yang membaca Al Quran tersebut?
  4. Setelah kita berhitung dan mengamati, pada akhirnya kita sadar, mungkin ada banyak yang membaca Al Quran. Tapi berapa banyak yang terkoneksi antara pembaca yang satu dan pembaca yang lainnya?
  5. Ketika kita sadari kesendirian kita. Apa yang harus kita lakukan? Apakah kita bertindak sendiri berdasar pemahaman yang kita dapat? Atau malah kita bertindak atas dasar pemikiran dan pemahaman orang lain?
  6. Karena itu saya sarankan untuk mengembalikan pemikiran dan pemahaman itu kepada Allah semata. Amati bagaimana dahulu nabi berbuat ketika menerima kumpulan wahyu tersebut. Apakah nabi bertindak seperti apa yang akan anda lakukan?
  7. Karena itu jika kita membaca Al Quran ini dari depan, kita akan temukan sebuah kisah. Bagaimana seorang raja yang ditunjuk oleh seorang nabi. Entah nabi tersebut siapa karena tidak disebutkan di dalam surah tersebut, tapi jelas nama raja itu adalah Thalut. Bagaimana Thalut dan pasukannya ketika akan menyeberangi sebuah sungai. Dan bagaimana Thalut berpesan kepada pasukannya agar tidak meminum airnya kecuali hanya menciduk-cidukkan tangan. Terbukti oleh siapa yang meminum airnya, maka ia menjadi lemah dan mudah berputus asa. Dan siapa yang tidak meminum airnya atau tetap berpuasa, maka ia menjadi kuat dan bersemangat untuk mengalahkan lawan.
  8. Dari kisah di atas, maka saya membuat suatu impian atau motivasi, yaitu bagaimana membangun jembatan di atas sungai tersebut. Anda tidak perlu membangunnya dari rambut yang dibelah tujuh. Karena itu akan membuat anda sulit melewatinya. Cukup bangun jembatan tersebut dengan balok dan papan kayu. Bangunlah jembatan itu dengan kokoh dan kuat agar anda dengan mudah dapat melewatinya. Mungkin anda bisa maju dan mundur di atasnya. Tapi tetaplah ini sebuah jembatan virtual yang sebenarnya kita tidak membangun jembatan dimanapun kecuali dalam pikiran kita masing-masing. J
  9. Tulisan ini dibuat mungkin karena beberapa hari yang lalu saya berdiskusi dengan salah seorang kawan yang mungkin juga membaca Al Quran. Saya merasa belum bisa berdiskusi dengan dia tentang Al Quran, tapi saya bisa mengajaknya berdiskusi tentang mesin virtual atau Virtual Machine yang berfungsi untuk menguji coba software yang kita buat agar tidak perlu menguji coba dengan mesin atau pc sungguhan.
  10. Faktanya memang mesin virtual itu berbeda dengan mesin asli. Mesin virtual itu unik, tapi tetap bukan mesin asli.
  11. Demikian ceramah subuhnya. Mohon maaf kalau tidak jelas. Tulisan ini hanya untuk mengungkapkan apa isi hati dan pikiran saya.
  12. Akhirul kalam, wassalamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar